banner 468x60

Sinopsis Perang Mahabharata atau Bharatayudha

banner 468x60
banner 160x600

Sinopsis Perang Mahabharata atau Bharatayudha
– Karma dan Sumpah yang Tergenapi

Perang Bharatayudha atau Perang Mahabharata adalah perang besar, perang saudara yang melibatkan anak-anak Pandu atau Pandhawa di satu sisi melawan seratus Kurawa yang adalah anak-anak Destarastra di sisi yang lain. Perang yang berlangsung selama 18 hari tersebut tidak hanya melibatkan dua kubu di antara saudara sepupu di Hastinapura, tetapi juga melibatkan kerajaan-kerajaan sekutu lainnya di Daratan India/Arya di masa lampau (Mitologi). Inilah Sinopsis Perang Mahabharata atau Bharatayudha yang tragis dan memilukan itu!

Perang tersebut merupakan puncak pertikaian di antara dinasti Kuru dalam Wiracarita Mahabharata terjadi di medan perang Padang Kurusetra. Dikisahkan bahwa putra sulung Hastinapura, pangeran Drestarastra yang buta sejak lahir terpaksa menyerahkan takhta kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura kepada adiknya, Pandu. Baca juga: Sinopsis Mahabharata yang Mengharu Biru

Pandu yang mempunyai dua orang istri yaitu Dewi Kunthi putri dari Kerajaan Kuntiboja dan Dewi Madri (Madrim) putri dari Kerajaan Madra mempunyai lima orang putra yang dikenal dengan sebutan Pandawa, dengan Yudistira sebagai putra sulung. Kelima putra Pandu dikenal dengan sebutan Pandawa/ Pandhawa yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Sayang, Pandu wafat di usia muda, Drestarastra menggantikan posisinya sebagai kepala pemerintahan sementara sampai kelak putra sulung Pandu dewasa. Kematian Pandu seperti kutukan yang terus berlangsung untuk Hastinapura. Kelima putra Pandu (Pandawa) dan seratus putra Drestarastra (Korawa) dididik oleh guru yang sama, bernama Guru Drona dan Krepa. Kurawa atau Korawa tumbuh menjadi anak-anak yang nakal, liar dan berhati jahat.

Selain itu, mereka dibimbing oleh kakek mereka, Bisma yang Agung. Oleh guru dan kakeknya, Yudistira dianggap pantas meneruskan takhta Kerajaan Kuru, sebab ia berkepribadian baik. Disamping itu, Yudistira merupakan pangeran yang tertua di antara saudara-saudaranya.

Namun demikian, Yudistira dan adik-adiknya selalu mengalami kecurangan dan kesewenang-wenangan dari Duryudana dan saudara-saudaranya. Kurawa berhati jahat dan licik karena pengaruh Paman mereka yaitu Sangkuni. Secara keji Pandawa harus mengalami masa pembuangan dan pengasingan selama 13 tahun setelah mereka kalah bermain judi dadu melawan Duryudana.

Sinopsis Perang Mahabharata

Sinopsis Perang Mahabharata

Setelah melewati masa pembuangan tersebut, Pandhawa menuntut haknya ke istana Hastinapura. Duryudana dan saudara-saudaranya memanipulasi kebenaran dan orang-orang di sekitarnya. Awalnya pidak Kuraw merasa yakin bahwa kemenangan akan berada di pihaknya karena mereka dilindungi ksatria kuat yang gagah berani dan seolah tidak terkalahkan. Di pihak Kurawa berdiri Bisma yang Agung, Guru Drona dan Raja dari Awangga, Karna.

Sementara itu, Pandawa yang adalah kerabat dekat dengan Kerajaan Dwaraka (melalui ibu Kunti) bahkan tidak mendapat dukungan dari Dwaraka yang dikenal punya pasukan khusus yang tangguh. Pandawa didukung oleh beberapa kerajaan sekutu seperti Kerajaan Pancala, Kasi, Matsya dan Kerajaan Madra. Namun demikian, Basudewa Krisna berada di pihak Pandawa sebagai penasihat perang.

Perang yang berlangsung selama 18 di medan perang Padang Kurusetra tersebut adalah pertautan takdir, penggenapan karma dan juga sumpah dari para pelakunya. Perang pasti akan menuntut jatuhnya banyak korban. Sebelum perang, para ahli perbintangan sudah menyampaikan ramalan-ramalannya yang mengerikan.

Seluruh keturunan Dinasti Kuru dari Raja Destrarastra akan tertumpas habis. Kelima Pandawa akan tetap hidup setelah perang tersebut. Namun seluruh putra keturunan Pandu tersebut akan binasa. Kelima putra Pandawa tidak terkalahkan di medan perang, tetapi di akhir perang mereka tidak akan selamat. Penglihatan-penglihatan yang mengerikan tersebut sebenarnya membuat beberapa pihak gentar dan ciut nyalinya. Namun bahkan Sri Krisna pun tidak mampu mencegah terjadinya perang tersebut.

Sinopsis Perang Mahabharata - Pandawa Putra Pandu

Sinopsis Perang Mahabharata – Pandawa Putra Pandu

Krisna yang menjadi duta perdamaian bahkan ditangkap dan dipenjarakan. Namun apalah arti menangkap dan memenjarakan manusia ghaib seperti Basudewa Krisna?

Karma dan Sumpah yang Tergenapi

Perang Mahabharata adalah jalan bagi karma dan sumpah bagi banyak pihak yang terlibat dalam perang tersebut. Bisma putra Gangga adalah pahlawan besar yang terkenal setia dan teguh memegang sumpah dan janjinya. Kesatria ini nyaris tak tertandingi sehingga Kurawa sangat yakin bahwa dengan adanya Bisma di pihak hastinapura, mereka tidak akan bisa dikalahkan oleh Pandawa.

Perang Bharatayuda menjadi tempat menggenapi karma, darma, dan sumpah banyak pihak yang saling bertautan. Sumpah Bisma dan Dewi Amba tergenapi dalam perang ini. Selain itu ada sumpah Bima yang akan menghabisi seluruh Kurawa, keturunan dinasti Kuru, putra-putra Destrarastra. Ada juga kutukan Drupadi ketika ia dipermalukan di arena perjudian. Drupadi yang hancur harga dirinya bersumpah dan mengutuk bahwa seluruh putra Pandu akan binasa, juga para ksatria besar di ruangan tersebut yang tidak berbuat apa-apa ketika kebenaran dan keadilan dipermainkan oleh keserakahan.

Sumpah Bisma

Pertautan sumpah Dewi Amba menggenapi dan menjadi jalan takdir bagi kematian Bisma yang Agung. Srikandi yang adalah reinkarnasi Dewi Amba datang sebagai jalan kematian bagi panglima perang Hastinapura tersebut.

Puluhan tahun sebelumnya, Bisma atas nama sumpahnya telah membuat Dewi Amba bersumpah untuk bereinkarnasi dan menjadi jalan dan penyebab kematiannya. Bisma yang merasa bersalah namun tetap teguh pada janjinya tersebut berjanji bahwa apabila ada perwujudan Dewi Amba di hadapannya, ia akan meletakkan semua senjatanya. Baca juga: Siapakah Bisma dalam Wiracarita Mahabharata

Srikandi yang adalah reinkarnasi Dewi Amba muncul di hadapan Bisma dalam perang besar tersebut. Sesuai janjinya, Bisma meletakkan senjatanya dan tidak memberikan perlawanan ketika Srikandi yang sudah terluka parah dihadang pasukan Kurawa melepaskan anak panahnya. Setelah itu, Arjuna melepaskan puluhan, bahkan ratusan anak panahnya menghunjam tubuh Bisma sang Dewabrata.

Takdir kematian sang Dewabrata datang dalam pertempuran epik tersebut. Bisma dapat dikalahkan. Ia terbaring di ranjang yang terdiri dari ratusan anak panah yang dilepaskan Arjuna. Namun demikian, ia tidak langsung meninggal dunia karena ia memiliki anugerah untuk memilih kapan kematiannya tiba. Ia masih tetap memberi wejangan kepada Pandawa, cucu-cucu yang sebenarnya sangat dikasihinya. Ia baru benar-benar tewas setelah perang besar tersebut berakhir dan memastikan bahwa kemenangan berada di pihak Pandawa yang membela kebenaran.

 Sumpah Raja Drupada dari Pancala

Sumpah Raja Pancala yang memohon putra melalui upaca Yadsna untuk menjadi penyebab kematian Drona tergenapi juga dalam perang ini. Drestadyumna adalah orang yang memenggal kepala Guru Drona, walaupun sebenarnya ia tidak mampu menandingi kekuatan dan kesaktian guru bagi Pandawa dan Kurawa tersebut.

Raja Pancala tersebut juga gugur di medan perang di tangan sahabat sekaligus musuh besarnya yaitu Guru Drona. Ia menjadi demikian dendam kepada Drona setelah merasa dipermalukan ketika separuh kerajaannya diambil oleh Drona. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak dan direndahkan hingga ia memohon kepada Dewata untuk mendapat anugerah seorang putra yang akan menjadi penyebab kematian bagi Drona.

Sumpah Bima

Sumpah Bima untuk menjadi penyebab bagi kematian 100 putra Destrarastra tergenapi juga dalam perang tersebut. Sumpahnya sekaligus membalaskan dendam Dewi Drupadi yang dilucuti dan dipermalukan dalam permainan judi belasan tahun sebelumnya di ruang sidang Hastinapura.

Salah satu sumpahnya yang mengerikan dan membuat Kurawa gentar adalah ketika ia mengucap sumpah untuk mencabuti tangan dan kaki Dursasana dan meminum darahnya karena Dursasana telah secara bengis mencoba melucuti pakaian Drupadi.

Sumpah Karna

Karna juga menggenapi sumpahnya untuk berjuang dan menjadi benteng pelindung bagi Duryudana, orang yang mengangkat derajatnya dari seorang anak kusir kereta menjadi kesatria dan raja dari Kerajaan Angga (Awangga). Walaupun sebelum perang dimulai ia tahu bahwa ia adalah putra dari Dewi Kunti dan kakak bagi Pandawa, ia telanjur terikat dengan sumpah dan janjinya untuk berjuang di pihak Hastinapura. Sumpahnya untuk hanya bertempur sampai mati menghadapi arjuna digenapinya di medan perang.

karna mempunyai kesempatan untuk menghabisi semua Pandawa tetapi itu tidak dilakukannya. Ia bertempur habis-habisan hanya ketika menghadapi Arjuna. Ia menggenapi sumpah janjinya kepada ibu Kunthi bahwa hanya Karna atau Arjuna yang akan terbunuh di medan pertempuran. Dengan demikian, baik Karna atau Arjuna yang gugur di medan perang, Kunti tetap memiliki lima orang anak.

Sebelum perang dimulai, pasukan Hastinapura seperti tidak mungkin terkalahkan. Berada di pihak Duryudana terdapat Bisma sang Dewabrata, guru Drona dan Karna yang mempunyai perisai dewa Surya sejak lahir. Namun demikian, beberapa hari sebelum perang Dewa Indra meminta perisai dan anting yang melekat pada tubuh Karna. Karna tidak memiliki perisai dewa lagi di tubuhnya. Namun sebagai gantinya Karna mendapatkan senjata dewa, sebuah anak panah sakti yang tidak akan pernah gagal. Panah tersebut rencananya akan digunakan sebagai senjata pamungkas untuk mengalahkan Arjuna.

Karna belum terjun ke medan pertempuran  karena Bisma sebagai panglima perang Hastinapura tidak menghendaki hal tersebut. Setelah Bisma gugur, Karna terlibat dalam pertempuran dan terlibat dalam pembunuhan dalam pengeroyokan panglima perang muda dari kubu Pandawa yaitu Abimanyu. Sebelum Karna berhadapan langsung dengan Arjuna, Krisna meminta putra Bima dengan raksasa Hidimbi yang bernama Gatotkaca untuk membantu pertempuran. Gatotkaca mengamuk dan menumpas banyak sekali pasukan musuh. Raksasa itu juga berhasil menangkap Duryudana dan nyaris membunuhnya. Untuk menyelamatkan Duryudana, Karna terpaksa mengeluarkan senjata pamungkasnya yang berasal dari Dewa Indra. Gatotkaca tewas oleh panah sakti dari Karna.

Kekuatan Karna dan Arjuna bisa dikatakan kembali seimbang.

Takdir Arjuna vs Karna

Pertautan jalan takdir keduanya memang menyedihkan. Bagaimanapun juga keduanya adalah putra dari Dewi Kunti yang memiliki anugerah memanggil Dewa yang akan memberi karunia putra kepadanya. Kedua kesatria tersebut dikatakan sebagai ahli panah terbaik di dunia. Namun demikian, dalam beberapa hal Karna memiliki kemampuan sedikit lebih baik daripada Arjuna. Dikatakan juga bahwa Karna adalah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Arjuna dalam perang ini.

Karna yang adalah anugerah dari Dewa Matahari, Batara Surya dilengkapi dengan perisai dan anting dewa Surya. Perisai tersebut melindunginya dari semua senjata tajam. Namun, Dewa Indra yang adalah ayah dari Arjuna meminta perisai tersebut supaya kekuatan antara Arjuna dan Karna lebih seimbang.

Sinopsis Perang Mahabharata - Basudewa Krisna

Sinopsis Perang Mahabharata – Basudewa Krisna

Karna memiliki kartu as untuk mengalahkan arjuna, yaitu panah sakti yang hanya bisa digunakan sekali. Karna menyimpannya untuk menghadapi dan menghabisi Arjuna. Namun demikian, sebelum mereka berdua berhadapan di medan tempur, Basudewa Krisna sang penasihat menjalankan siasatnya dengan mengirim Gatotkaca ke hgaris depan pertempuran.

Gatotkaca adalah putra Bima dari istrinya yang seorang raksasa, Arimbi atau Hidimbi. Gatotkaca mengamuk dan membuat Kurawa ketakutan. Gatotkaca hampir menewaskan Duryudana yang ketakutan dan meminta Karna untuk menggunakan senjata Saktinya untuk menyelamatkan pangeran Hastinapura tersebut. Karna berhasil membunuh Gatotkaca dengan senjata saktinya. Dengan demikian, Arjuna terselamatkan dari senjata tersebut.

Pada gilirannya, Arjuna menghadapi Karna dalam perang tanding. Krisna sang Basudewa menjadi kusir kereta Arjuna sekaligus penasihatnya. Ketika saling berkejaran, roda kereta Karna terperosok. Ia harus berjuang mengangkat roda keretanya. Namun, saat itu juga kutukan gurunya, Resi Baratwaja, muncul dalam pikirannya dan menjadi kenyataan.

Pada masa mudanya Karna yang seorang anak kusir kereta terus mendapatkan penolakan. Ia juga ditolak oleh Guru Drona untuk menjadi muridnya karena bukan berasal dari kasta Kesatria. Ia mendatangi Resi Baratwaja dan menyamar sebagai seorang brahmana untuk mendapatkan ilmunya. Ketika ia sudah hampir menyelesaikan pendidikannya, Resi Baratwaja mengetahui penyamaran Karna. Resi Baratwaja merasa dibohongi dan mengutuk bahwa kekuatan dan kesaktian Karna akan hilang musnah begitu saja di saat seharusnya dibutuhkan.

Karna kehilangan kekuatan dan kesaktiannya bahkan ia tidak mampu mengangkat dan menggerakkan roda keretanya yang terperosok. Pada saat itulah, Basudewa Krisna menyuruh Arjuna untuk memanah karna. Arjuna sempat menolaknya karena itu bukan watak seorang kesatria. Krisna mengingatkan bahwa Karna juga bertindak tidak kesatria ketika terlibat dalam pengeroyokan putranya, Abimanyu dan terlibat dalam peristiwa Drupadi.

Akhirnya Karna tewas, ditembus anak panah Arjuna. Setelah itu barulah diketahui bahwa Karna adalah kakak sulung bagi kelima Pandawa. Kekalahan Karna, Guru Drona, dan juga Bisma yang agung memukul mental pasukan Hastinapura. Keadaan dengan cepat berbalik, Pandawa dan pasukannya berada di pihak yang terlihat akan segera memenangkan peperangan.

Sumpah Duryudana

Sebelum perang terjadi, semua ramalan mengatakan bahwa kejayaan akan berada di pihak Pandawa yang memegang nilai-nilai kebenaran sementara semua Kurawa akan musnah. Namun demikian, Duryudana bersumpah bahwa ia tidak akan mati sebelum mendengar kabar kematian kelima Pandawa.

Di akhir perang, Duryudana adalah Kurawa terakhir yang dikalahkan oleh Bima. Bima menggenapi sumpahnya untuk menghabisi keseratus putra Destrarastra. Ia belum mati selama belum mendengar kabar kematian Pandawa. Dalam keadaan sekarat ia meminta Aswatama untuk membinasakan seluruh Pandawa. Aswatama menyelinap ke kemah Pandawa dan membantai lima orang yang sedang tidur di kemah pandawa. Ia juga menghabisi Drestadyumna dan juga Srikandi. Ia mengira kelima orang yang dibantai dikemah itu adalah Pandawa dan segera menyampaikan kabar tersebut kepada Duryudana.

Akhirnya Duryudana tewas, ia pergi dengan tenang karena mendengar kabar tersebut dan mengira musuh-musuhnya sudah tewas. Kelima orang yang dibantai ASwatama tersebut ternyata adalah putra-putra Pandawa. Pandawa berhasil memenangkan perang Bharatayudha melawan Kurawa dan berhak atas takhta Hastinapura. Namun, kemenangan tersebut dirasa sangat pahit karena semua keturunan Pandawa ikut tertumpas akibat perang tersebut.

Penerus Takhta Hastinapura

Setelah perang berakhir, ASwatama mendapat hukuman dari Krisna. Basudewa Krisna mencopot permata yang ada di dahi Aswatama dan mengutuknya mengalami penderitaan selama-lamanya.

Yudistira menjadi raja di Hastinapura. Penerus bagi Yudistira selanjutnya ada pada cucu Arjuna atau anak dari Abimanyu. Sebelum perang besar terjadi, Abimanyu telah dinikahkan dengan Dewi Utari, putri Raja Wirata dari kerajaan Matsya yang memberi perlindungan kepada Pandawa dalam masa persembunyian setelah pembuangan di hutan.

Abimanyu bahkan tidak mengetahui istrinya tengah mengandung anak yang nantinya akan menjadi pembawa perubahan di seluruh Daerah Arya, daerah India Kuno tempat Hastinapura berada. Raja besar yang adalah cucu Arjuna tersebut bernama Parikesit.

 

banner 468x60
Tags:
author

Author: