banner 468x60

Kematian Duryudana Mahabharata

banner 468x60
banner 160x600

Kematian Duryudana Mahabharata

Duryudana sang Antagonis Mahabharata

Duryudana adalah kakak tertua sekaligus yang paling sakti di antara seratus Kurawa. Kurawa adalah sebutan dari anak-anak Destarastra, raja Hastinapura. Mereka beranggapan bahwa merekalah keturunan Bangsa Kuru yang sebenarnya dan lebih pantas menjadi pewaris takhta Hastinapura dibandingkan anak-anak Pandu atau Pandawa.

Kematian Duryudana terjadi pada hari terakhir Perang besar Mahabharata atau Bharatayudha. Kematian Duryudana sekaligus menandai berakhirnya peperangan tersebut yang dimenangkan oleh pihak Pandawa. Kematian Duryudana terjadi secara dramatis di tangan Bima. Hal tersebut sekaligus menggenapi sumpah Bima yang berjanji untuk menghabisi keseratus keturunan Raja Destrarastra. Baca juga: Sinopsis Mahabharata Kisah yang Mengharu Biru

Perang Hari Terakhir

Kematian Duryudana terjadi setelah pasangan jiwanya, yaitu Sengkuni atau Sangkuni tewas secara tragis di tangan Sadewa. Tokoh yang bersifat buruk, suka mengadu domba dan licik ini adalah salah satu tokoh yang kematiannya sangat ditunggu-tunggu oleh penggemar kisah Mahabharata dan juga pewayangan.

Perang Bharatayuda menjadi malapetaka mahadahsyat bagi bangsa Kuru. Duryudana yang di awal pertempuran sangat percaya diri bisa memenangkan perang lambat laun mulai kehilangan keyakinannya. Terlebih ketika para kesatria dan panglima perangnya yang tangguh dan nyaris tanpa tanding menemui ajalnya. Mulai Bisma yang Agung, Guru Drona, dan adipati Karna raja Angga (Awangga). Saudara-saudaranya pun jatuh berguguran tanpa bisa memberikan perlawanan berarti ketika menghadapi Bima. Baca juga: Sinopsis Perang Mahabharata atau Bharatayudha

Pukulan paling telak dirasakan Duryudana ketika mengetahui (Adipati) Karna Raja Angga (Awangga) juga gugur ketika menghadapi Arjuna. Ia bahkan merasa bahwa Karna telah mengkhianati persahabatannya karena tidak menghabisi anak-anak Pandu padahal Karna berhasil mengalahkan mereka kecuali Arjuna. Karna diketahui sudah tahu bahwa Pandawa adalah adik-adik dan bahwa Ratu Kunti adalah ibundanya.

Kenyataan tersebut membuat Duryudana sangat terpukul dan frustrasi. Setelah kematian Raja Salya, Ia malah melarikan diri ke dalam hutan karena frustrasi. Aswatama, sahabatnya, yang juga adalah anak semata wayang dari Guru Drona mencoba membujuk dan menasihatinya untuk melanjutkan pertempuran.

Ilmu Kebal Duryudana

Angin kemenangan sepertinya berbalik ke arah Duryudana ketika ia mendapat kabar bahwa ibundanya yang sekian puluh tahun menutup matanya dengan kain karena bersuamikan Destrarastra yang buta mendapat anugrah Dewa Siwa. Ketika membuka matanya, Dewi Gendari akan memancarkan kekuatan yang akan mengubah tubuh Duryudana sekuat bajra dan tidak akan mampu tertembus senjata.

Duryudana segera menemui ibundanya untuk mendapatkan kekuatan tersebut. Namun upayanya, lagi-lagi digagalkan oleh Krisna. Karena malu, Duryudana menutup bagian kemaluan dan pangkal pahanya dengan daun pisang ketika menemui ibundanya. Dan benar saja, ketika Dewi Gendhari membuka penutup matanya, pancaran sinar keluar dari matanya memberikan Duryudana kekuatan seperti layaknya mutan… hehehe

Pertempuran di hari terakhir Perang Bharatayuda hanya melibatkan Duryudana seorang diri melawan kelima Pandawa. Akhirnya disepakati pertarungan dilangsungkan satu lawan satu dan Bima maju untuk menghadapi Duryudana sekaligus menggenapi sumpahnya. Sebelum duel terjadi, Sangkuni terlebih dahulu tewas di tangan Sadewa yang membelahnya dengan kapak.

Pertarungan Antara Bima dan Duryudana yang dilakukan dengan senjata gada tersebut berlangsung dengan sengit. Namun, Bima mulai menyadari bahwa Duryudana mempunyai ilmu yang baru didapatkannya yang membuatnya kebal dari berbagai serangan senjata. Para Pandhawa yang lain termasuk juga Krisna dan Balamara, kakak Krisna yang juga guru keduanya dalam memainkan gada turut menyaksikan pertempuran hidup mati tersebut. Mereka memberi tahu tentang sumpah Bima yang akan meremukkan paha Duryudana ketika perjudian yang melibatkan Pancali alias Drupadi.

Bima kemudian menghantamkan gadanya ke paha Duryudana sekuat tenaga yang membuatnya mengerang kesakitan. Pahanya remuk namun jiwanya tak kunjung mati. Duryudana berhasil dikalahkan. Namun, seperti apa yang diucapkannya, ia tidak akan mati sebelum mendengar kabar kematian Pandawa. Hal itu disampaikan kepada Aswatawa yang berjanji akan menyusup ke kemah Pandawa dan menghabisi semuanya demi Duryudana.

Akhir yang Menyedihkan

Pada malam berikutnya Aswatama menyusup ke kemah Pandawa dan membantai lima orang yang tidur di sana. Aswatama yang mengira kelimanya adalah Pandawa segera menyampaikan berita gembira tersebut kepada sahabatnya. Begitu mendengar kabar kematian kelima musuhnya, Duryudana tersenyum lega, ia kini bisa pergi dengan tenang dan segera menghembuskan napas terakhirnya.

Perang Mahabharata atau Bharatayuda berakhir untuk kemenangan Pandawa. Keseratus anak Destarastra berhasil mereka tumpas. Namun, kemenangan itu seperti tidak ada artinya apa-apa karena semua keturunan Pandawa telah tumpas. Aswatama bahkan secara keji juga membunuh jabang bayi di dalam rahim Dewi Utari (Dewi Untari) istri dari Abimanyu. Beruntung Krisna menghidupkan bayi tersebut yang kelak akan menjadi pewaris takhta Hastinapura. Aswatama dihukum oleh Basudewa Kresna. Bayi tersebut kelak akan lahir dan diberi nama Parikesit. Selanjutnya, baca: Siapa Itu Drupadi dalam Wiracarita Mahabharata

 

 

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: